Wednesday, December 01, 2004

Kado Spesial di Hari Spesial

Apakah permintaan maaf saja itu sudah cukup? Kata-kata tersebut terus teriang-iang di kepalaku. Aku masih tidak habis pikir bagaimana ia dapat berkata seperti itu kepada keponakannya sendiri? Padahal apa yang terjadi tadi adalah suatu tindakan ketidak-sengajaan. Aku tidak mungkin sampai hati untuk menumpahkan teh panas itu di atas gaunnya yang putih bersih itu secara sengaja.

Mungkin memang ini sudah menjadi takdirku untuk selamanya menjadi seorang pelayan yang bekerja di rumah tantenya sendiri. Aku sendiri tidak tahu mengapa orang tuaku meninggalkan aku di depan rumah tanteku saat aku masih berusia tujuh tahun. Apa mereka tega membiarkan aku seperti ini terus-terusan dalam waktu hampir tujuh tahun? Aku sendiri berpikir, bahwa mereka sebenarnya tidak mempunyai maksud jahat, yang kupikirkan hanya hal-hal yang positif saja. Hanya itulah kekuatanku hingga saat ini.

Bulan yang akan datang usiaku akan menjadi sangat spesial, aku akan berusia tujuh belas tahun. Tapi mengingat statusku yang rendah ini rasanya tidak mungkin aku akan mendapat ucapan selamat spesial dari teman-temanku, apalagi di sekolah pun aku mendapat perlakuan yang sama seperti apa yang kuperoleh di rumah tanteku ini. Apa mungkin hal tersebut dapat terjadi karena aku sudah terlalu terbiasa untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan seorang pelayan, yah? Kalau diperhatikan hal itu mungkin juga, pernah ada suatu kejadian seorang teman disirami air karena ia berulang tahun, eh tiba-tiba saja secara refleks aku malah langsung mengambil kain pel dan membersihkan tumpahannya di lantai dan setelah itu aku malah langsung diejek dan ditertawakan oleh semua teman yang ada di sana. “Memang pekerjaan sehari-hari sih yah?” ejek salah satu temanku. Yah, mereka memang tahu kalau aku bekerja sebagai pelayan di rumah tanteku.

Ingin tahu bagaimana kisahku bisa menjadi seorang pelayan di rumah tanteku sendiri? Kisahnya sungguh bodoh dan singkat sekali. Saat pertama kali aku sampai di depan rumah tanteku itu, ia ang masih memimpi-mimpikan seorang anak sangat menerima kehadiranku dengan sukacita. Keadaan ini terus berlangsung selama empat bulan karena setelah itu ia mulai mengandung anaknya, aku mulai kurang diperhatikan. Setelah anaknya lahir, aku mulai dicampakkan olehnya dan setelah anaknya berusia dua tahun, ia menganggapku sebagai pengganggu. Dan ia yang telah menganggapku sebagai hama menyebalkan akhirnya menjadikanku menjadi seorang pelayan di rumahnya.

Jadi, bagaimana? Cerita ini konyol bukan? Menurutku hati seorang manusia memang sulit untuk ditebak. Seperti halnya tanteku itu, ia dulunya baik padaku, tapi sekarang…. ia sangat kejam padaku. Sudah acap kali aku dimarahi dan dipukul, bahkan disiksa oleh tanteku itu, ditambah lagi dengan perlakuan seluruh orang yang ada di sekitarku yang selalu merendahkanku. Yah, memang aku tidak ada bagus-bagusnya, wajahku jelek, badanku kurus ceking, otakku pun ikut-ikutan bodoh sampai-sampai para guru di sekolah sangat kesal menanganiku. Sepertinya aku ini menanggung dosa yang amat besar di kehidupanku yang sebelumnya, hingga sekarang aku menjadi makhluk yang paling rendah di antara yang rendah. Hhh…. rasanya aku sudah tidak mampu lagi untuk hidup di dunia yang penuh penderitaan ini.

Waktu terus berjalan dengan cepatnya, begitu pula dengan rentetan peristiwa-peristiwa membosankan yang mambuat aku terlihat menjadi semakin renah seperti biasanya. Tak kusangka hari ini adalah hari spesial yang telah kunantikan sejak bulan lalu. Pagi ini aku dengan perasaan yang senang, riang, dan seolah tak perduli dengan apapun yang akan terjadi nanti. Aku tak perduli bila nanti orang-orang malah akan mengejekku bila nanti aku akan membeli kue dan lilin untuk kurayakan sendiri, karena seperti biasanya diriku yang sudah kebal akan ejekan, semua hal tersebut hanya aku lalui dengan tiga hal, yaitu ketabahan, pikiran yang positif dan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Tepat saat aku sedang menyebrangi jalan menuju ke sekolah, aku mendapat sebuah kado yang sungguh sangat spesial bagiku. Kado ini sudah kunanti-nantikan sejak dahulu, sejak masa penderitaanku dimulai. Aku mendapat kado dari malaikat-malaikan Tuhan, tapi aku rasa mereka hanya sebagai perantara pemberi kado sedangkan sesungguhnya kado tersebut diberikan oleh Tuhan sendiri. Akhirnya setelah sekian lamanya nasib mempertemukanku dengan orang tuaku. Aku merasa sungguh sangat senang sekali. Ohh… terima kasih, Tuhan. Aku segera berlari memeluk orang tuaku yang ada di seberang sana.

“Ma! Mama! Lihat ini ada berita di koran!”

“Ada apa sih, pagi-pagi begini sudah berisik kamu?”

“Ma, lihat! Ini kan foto si pelayan kita itu.”

“TELAH DITEMUKAN MAYAT SEORANG GADIS YANG TERPENTAL KE PINGGIR JALANAN, DIDUGA KARENA KECELAKAAN LALU-LINTAS YANG MENGENASKAN”

The End

0 Comments:

Post a Comment

<< Home